Kenny Febrian, Jurnalis
Cungkring Pak Jumat, Pencetus
Makanan Legendaris Yang di Kenal
Bicara mengenai wisata kuliner legendaris di Kota Hujan,
rasanya belum lengkap jika tak membahas Jalan Surya Kencana.
Sebab, kawasan chinatown
ini menawarkan berbagai
macam jenis kuliner mulai dari yang halal hingga non-halal. Jalan Surya
Kencana yang membentang sepanjang
kurang lebih 1 km ini dipenuhi dengan jenis kuliner yang sudah berusia puluhan tahun. Kebanyakan pedagang
di jalan tersebut juga sudah berjualan selama
puluhan tahun. Salah satunya adalah pedagang cungkring.
Jika mendengar kata cungkring, sebagian besar yang terpikir
adalah tubuh tinggi dan kurus kering.
Namun, kata cungkring yang dimaksud
disini adalah nama jenis kuliner yang sangat
disukai di Bogor,
meski tidak semua orang mengetahuinya.
Apa
itu cungkring ?
Cungkring adalah potongan
kikil (kaki sapi) dan bagian dari kepala sapi yang dimasak bumbu
kuning, ditambahkan lontong
dan keripik tempe, kemudian diguyur dengan saus kacang.
Kikil sebagai bahan utama pada Cungkring, secara tekstur
sangat mirip dengan cingur (mulut sapi) pada rujak cingur khas Jawa Timur Sebagian
orang juga sering menyalahartikan kikil sebagai
krecek. Padahal, meski sama-sama bagian dari sapi, keduanya merupakan bahan makanan
berbeda, mulai dari posisi di tubuh sapi, cara memasak dan tampilan fisiknya.
Kikil berasal dari kaki, dari dengkul hingga kaki bagian bawah. Sedangkan kulit adalah paling luar daging sapi. Kikil masih
memiliki lemak, sedangkan kulit hanya berupa lembaran tanpa lemak. Kemudian
untuk cara pengolahannya, sebelum menjadi krecek,
kulit harus dikeringkan
terlebih dahulu. Oleh sebab itu, tekstur krecek cenderung kering dan renyah, makanya
kerap disebut sebagai kerupuk kulit
sapi.
Nama cungkring sendiri tidak diberikan sembarangan loh.
Ternyata cungkring diambil dari nama-nama bahan yang digunakan
untuk membuatnya. Cungkring
sendiri merupakan singkatan
dari cungur (bibir) dan kaki garingan.
Jika anda membeli
cungkring untuk langsung
dinikmati (buka dibungkus
untuk dibawa pulang), hampir semua pedagang menyajikannya dengan
cara tradisional yaitu menggunakan
pincuk (wadah yang dibuat dari daun pisang) lengkap dengan tusukan dari lidi untuk menyantapnya.
Penjual Cungkring
Ada
beberapa penjual cungkring yang
cukup
populer di Bogor,yang sebagian
besar berlokasi di Gang Aut,
Jl Surya Kencana Bogor. Mudah
ditemukan, karena berada di tepi jalan utama. Pedagang Cungkring ini sudah
membuka usahanya sejak pukul 07.00
WIB.
Rata-rata para penjual
Cungkring tersebut
menggunakanan nama Pak Jumad sebagai
mereknya. Pak Jumad adalah perintis usaha Cungkring, yang mulai
berjualan sejak tahun 1975. Bermodalkan pikulan, Pak Jumad menawarkan Cungkring
buatannya dengan cara berkeliling.
Usaha pak Jumat dilanjutkan oleh putranya bernama Deden,
yang populer dengan sebutan Kang
Deden. Namun tidak lagi jualan dengan cara berkeliling, tetapi menetap pada
sebauh lokasi di kawasan Jalan Surya Kencana sejak tahun 2004.
Selain di Bogor, Cungkring
Pak Jumad pernah membuka di Kampoeng Tempoe Doelo Kelapa
Gading. Namun tidak lama, karena peminatnya tidak banyak, demikian
yang dikatakan oleh Kang Deden.
Cita rasa dan tampilan Cungkring
Seporsi cungkring, berisi
rebusan potongan beberapa
bagian tubuh sapi seperti kulit,
urat, dan kikil yang dipotong
kecil-kecil. Bagian paling favorit adalah urat sapi, karena teksturnya yang menyerupai daging
sapi. Setelah itu ditambahkan lontong
dan keripik tempe yang kering,
gurih, dan sedikit
rasa asin dari campuran
bumbu ketumbar. Kemudian
disiram dengan saus yang
dibuat dari kacang yang ditumbuk kasar. Agar lebih lezat, ditambahkan kecap manis
di atasnya atau dengan menambahkan sambal hijau sesuai selera.
Cita rasa cungkring adalah dominan gurih
yang berasal dari bahan baku yang digunakan, tanpa bau prengus, karena
bahan-bahan tersebut telah diolah sedemikian rupa menggunakan bumbu
rempah pilihan.